Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Selasa, 05 Februari 2013

PERILAKU MENYIMPANG & PENGENDALIAN SOSIAL

PERILAKU MENYIMPANG & PENGENDALIAN SOSIAL
Pengertian Perilaku Menyimpang:
Adalah perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma sosial.
Robert MZ Lawang: perilaku menyimpang adalah tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial.
Menurut Lemert, Penyimpangan dibedakan menjadi dua:
1.     Penyimpangan primer; dilakukan oleh seseorang secara temporer, dan pelakunya masih dapat diterima secara sosial
2.     Penyimpangan sekunder; penyimpangan yang dilakukan secara berulang-ulang bahkan menjadi kebiasaan dan ciri khas dari pelakunya.
Faktor yang mempengaruhi perilaku menyimpang:
1.     Faktor Internal:
a.     Intelegensi
b.     Kondisi fisik
c.     Kondisi psikis (kejiwaan)
d.     Kepribadian
e.     Usia
f.      Jenis Kelamin
g.     Kedudukan seseorang dalam keluarga
2.     Faktor eksternal
a.     Faktor sosial ekonomi
b.     Kondisi politik
c.     Faktor budaya
d.     Kehidupan rumah tangga
e.     Pendidikan di sekolah
f.      Pergaulan
g.     Media massa
Jenis Perilaku Menyimpang:
1.     Tindak Kejahatan atau Kriminal;spt pembunuhan, perampokan, pencurian, pemalsuan, penganiayaan, pemerkosaan, penculikan, dll.
2.     Penyimpangan seksual; Sodomi, transeksual,masokisme, homoseks, incest, scoptophilia, transvestite, kumpul kebo, necrophilia, perzinahan, pelacuran, dsb.
3.     Pemakaian dan peredaran obat terlarang dan alkoholisme
4.     Penyimpangan gaya hidup: spt arogansi (kesombongan), sikap eksentrik, konsumerisme, dll.
5.     Tawuran atau perkelahian antar pelajar.
Berdasarkan sifatnya, perilaku menyimpang dibedakan menjadi penyimpangan Positif & penyimpanganNegatif.
Berdasarkan jumlah pelakunya, dibedakan menjadi penyimpangan Individu & penyimpangan Kelompok.
Perilaku Menyimpang Sebagai Hasil sosialisasi Tidak Sempurna:
Tidak semua agen sosialisasi mampu menjalankan fungsinya dengan baik, sehingga proses sosialisasi juga tidak berhasil baik. Dalam kerangka ini perilaku menyimpang disebabkan oleh proses sosialisasi yang tidak sempurna.
Perilaku menyimpang sebagai hasil sosialisasi nilai sub kebudayaan menyimpang:
Penyimpangan ini dipicu oleh proses sosialisasi dari kelompok atau golongan masyarakat yang memiliki nilai atau kebudayaan menyimpang, seperti kelompok pencopet, penjudi, koruptor, dll.
PENGENDALIAN SOSIAL
Merupakan suatu sistem yang mendidik, mengajak bahkan memaksa warga masyarakat untuk berperilaku sesuai dengan nilai dan norma-norma social agar kehidupan masyarakat tertib dan teratur.
Fungsi Pengendalian sosial adalah sebagai pencegah dan pereda ketegangan sosial yang diakibatkan penyimpangan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang,
Sifat Pengendalian sosial:
1.     Preventif; dilakukan sebagai pencegahan (sebelum penyimpangan terjadi)
2.     Represif; dilakukan sebagai pereda/penyelesaian (setelah penyimpangan terjadi)
Cara Pengendalian Sosial:
1.     Cara Persuasif; membujuk, menasehati, atau mengajak secara halus.
2.     Koersif; dilakukan dengan kekerasan fisik atau ancaman.
Lembaga Pengendalian sosial:
1.     keluarga
2.     Lembaga Penegak Hukum; pengadilan, kejaksaan, kepolisian..
3.     Lembaga Pendidikan
4.     Lembaga kemasyarakatan; RT, RW, dll
5.     Lembaga Keagamaan
Peran Lembaga Pengendalian Sosial:
1.     Menanamkan norma-norma pada masyarakat
2.     Memberikan sanksi bagi pelaku penyimpangan.
Bentuk Pengendalian sosial:
1.     Gosip
2.     Teguran
3.     Hukuman
4.     Pendidikan
5.     Agama

INTERAKSI SOSIAL.



INTERAKSI SOSIAL

1. Pengertian Interaksi Sosial
Interaksi sosial dalah suatu hubungan social yang dinamis antara orang perorangan, antara individu dan kelompok manusia, dan antar kelompok manusia.
2. Proses Interaksi Sosial
Interaksi sosial terjadi karena faktor kebutuhan yang timbul dari dalam diri manusia mencakup kebutuhan dasar, kebutuhan sosial dan kebutuhan integratif, serta naluri untuk hidup berkelompok atau bersama orang lain.
3. Syarat Terjadinya Interaksi Sosial
Ada 2 syarat terjadinya interaksi sosial:
a.     Kontak sosial, berdasarkan cara komunikasi terbagi menjadi 2: Kontak langsung & Tidak langsung. Sedangkan berdasarkan proses komunikasi dibedakan menjadi 2: Kontak Primer & Kontak Sekunder
b.     Komunikasi, yaitu tafsiran seseorang terhadap perilaku orang lain yang diwujudkan dengan pembicaraan, gerak gerik, sikap, maupun perasaan tertentu.

4. Bentuk-bentuk Interaksi Sosial
a.     Kerjasama, yaitu bergabungnya sekelompok manusia untuk mencapai tujuan bersama. Meliputi:
1.Bargaining, perjanjian tukar menukar barang dan jasa antar 2 organisasi atu lebih
2. Kooptasi, proses penerimaan unsure-unsur baru dalam kepemimpinan atau pelaksanaan politik dalam suatu organisasi
3. Koalisi, merupakan kombinasi antara dua organisasi atau lebih yang memiliki tujuan sama
4. Joint Venture, adalah kerjasama dalam pengusahaan proyek tertentu dengan system bagi hasil
5. Kerukunan, mencakup gotong royong dan tolong menolong.
b.     Akomodasi, yaitu usaha untuk menciptakan keseimbangan dalam interaksi antara individu maupun kelompok yang berkaitan dengan pelaksanaan nilai dan norma sosial dalam masyarakat. Atau usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan agar tercapai kestabilan kembali. Akomodasi sebenarnya suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan sehingga lawan tidak kehilangan kepribadiannya.
c.     Asimilasi, merupakan proses social yang ditandai dengan adanya usaha untuk mengurangi perbedaan yang terdapat diantara individu atau kelompok dan usaha mempertinggi kesatuan tindak, sikap, serta proses mental untuk mencapai kepentingan dan tujuan bersama.
d.     Akulturasi, proses penyatuan berbagai unsur kebudayaan asing yang diterima, diolah, tanpa menghilangkan kepribadian kebudayaan itu sendiri, sehingga menjadi suatu bentuk kebudayaan baru.
e.     Persaingan, merupakan suatu proses sosial yang ditandai dengan adanya persaingan antar individu maupun kelompok dalam mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan dengan cara menarik perhatian atau mempertajam prasangka tanpa menggunakan ancaman dan kekerasan.
f.      Kontravensi, suatu bentuk proses sosial yang berada diantara persaingan dan pertikaian serta ditandai dengan adanya gejala ketidakpastian mengenai diri seseorang, keraguan terhadap kepribadian, dan perasaan tidak suka yang disembunyikan bahkan kebencian pada seseorang.
g.     Pertentangan, adalah suatu proses sosial yang dilakukan oleh seseorang maupun kelompok untuk mencapai tujuan tertentu dengan cara menantang pihak lawan melalui ancaman atau kekerasan.
 Bentuk Interaksi  a, b, c, d, adalah interaksi yang bersifat Asosiatif, sedangkan e, f, g, bersifatDisosiatif.
5. Faktor Pendorong Interaksi Sosial
a. Imitasi, yaitu proses peniruan tingkah laku orang lain untuk diterapkan pada seseorang yang meniru tingkah laku tersebut.
b. Sugesti, adalah suatu pendapat, saran, pandangan atau sikap yang diberikan pada seseorang dan diterima tanpa disertai daya kritik.
c. Identifikasi, merupakan suatu kecenderungan atau keinginan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan pihak lain (meniru secara keseluruhan).
d. Simpati, adalah suatu proses dimana seseorang merasa tertarik pada pihak lain. Dalam proses ini perasaan memegang peranan yang sangat penting.

Senin, 04 Februari 2013

MATERI SOSIOLOGI SMA / MA

MATERI SOSIOLOGI SMA / MA

SUB POKOK BAHASAN
• STRUKTUR SOSIAL
• KONFLIK DAN INTEGRASI SOSIAL
• MOBILITAS SOSIAL
• MASYARAKAT MULTIKULTURAL
• KELOMPOK SOSIAL DALAM MASY MULTIKULTURAL INDONESIA
• PERUBAHAN SOSIAL
1. STRUKTUR SOSIAL
• UNSUR PEMBENTUK :
STATUS, PERANAN, TINGKAH LAKU, INTERAKSI & HUBUNGAN SOSIAL INDIV STRUKTUR SOS
• BENTUK : MASY, KLP, LEMBAGA
C. DIFERENSIASI SOSIAL :
VERTIKAL, HORISONTAL
• BENTUK : TRADISIONAL & MODERN, RAS & ETNIS, AGAMA & KEPERCAYAAN, JENDER, PROFESI, KLAN, SUKU BANGSA
• STRATIFIKASI SOSIAL : PERBEDAAN STATUS/PERAN MENURUT KELAS/STRATA
LANJUTAN …
• JENIS : ALAMI, USAHA
• FAKTOR : KEKAYAAN, KEKUASAAN, KEHORMATAN, PENDIDIKAN
• SIFAT : TERBUKA, TERTUTUP
• BENTUK : SISTEM KASTA, KELAS SOSIAL, FEODAL, APARTHEID
• FUNGSI : RANGSANGAN, PEMBAGIAN KERJA, KESEMPATAN & GAYA HIDUP
• BIDANG : EKONOMI, STATUS SOSIAL, POLITIK
PENGARUH DIFERENSIASI & STRATIFIKASI PADA MASY
• KESEHATAN : TIDAK LANGSUNG
• PENDIDIKAN : LANGSUNG
• HARAPAN HIDUP : TIDAK LANGSUNG
• KEADILAN SOSIAL : LANGSUNG/TIDAK LANGSUNG
2. KONFLIK & INTEGRASI SOSIAL
A. KONFLIK : saling memukul, 2 Org /klp berusaha saling menyingkirkan dan membuatnya tdk berdaya
• Konflik social : tdk ada masy tanpa konflik
• FAKTOR : INDIV, KEBUD, KEPENTINGAN, PERUBH SOS
• KONDISI KONFLIK : ORANG TUA, SUAMI/ISTERI, ANAK, KERABAT, DI SEKOLAH, PEKERJAAN, POLITIK, AGAMA, ETNIK, KLP SOSIAL, PRIBADI, DNG ORANG LAIN, DLL.

• DAMPAK
• Menguatkan solidaritas anggota klp (ingroup)
2. Menimbulkan keretakan hub antar klp
3. Menimbulkan perubh sikap, perasaan thd sesuatu: dendam, benci, curiga, dll.
4. Kerusakan fisik, harta benda, hilangnya nyawa
5. Dominasi, penaklukan satu klp atas klp lain
6. Konflik menghasilkan konflik; krn yang dicapai pihak satu tidak diakui/diterima pihak lain
KONFLIK & KEKERASAN
• KEKERASAN : KONFLIK TERBUKA, MANIFES,TDK TERKENDALI
• DOMINASI SUMBERDAYA (LANGKA)
• PENGENDALIAN :
KONSILIASI, MEDIASI, ARBITRASI
• WIN-WIN SOLUTION :
KONSILIASI, DIALOG, MUSYAWARAH-MUFAKAT, SEPAKATI ATURAN BERSAMA, SALING MENGHORMATI & MENGHARGAI


3. MOBILITAS SOSIAL
A. MOB SOSIAL : PERPINDAHAN/PERGESERAN STATUS & PERANAN INDIV, KLP MENURUT LAPISAN SOSIAL (NAIK-TURUN)
• JENIS :
VERTIKAL, HORISONTAL, LATERAL (GEOGRAFIS)
• RUANG LINGKUP :
- INTRAGENERASI (STAF, KASI, MANAJER),
- ANTAR GENERASI (KAKEK, AYAH, ANAK)

• FAKTOR-FAKTOR :
• PENDORONG :
STATUS SOSIAL,KEADAAN SOSIAL EKONOMI, POLITIK, PENDUDUK
• PENARIK :
LAP KERJA, TANTANGAN, FASILITAS, KEMUDAHAN, HUBUNGAN SOSIAL, DLL
• PENGHAMBAT :
PERBEDAAN RAS & AGAMA, KELAS, IKATAN SOSIAL/BUD,MISKIN, JENDER
• SALURAN MS VERTIKAL :
TNI/POLRI, AGAMA, PENDIDIKAN, ORGN SOSEK
• DAMPAK MS
• KEMAJUAN
• PERUBAHAN SOSIAL
• KECEMASAN & KETEGANGAN
• KERETAKAN KLP PRIMER
• KONFLIK :
ANTAR INDIV, KELAS, KLP
4. MASY MULTIKULTURAL
• MASY MULTIKULTURAL
MASY MAJEMUK DNG :
KOMPOSISI SEIMBANG, MAYORITAS DOMINAN, MINORITAS DOMINAN, FRAGMENTASI
• SIFAT : SEGMENTASI KLP, KLP NON KOMPLEMENTER, KONSENSUS NILAI FUNDAMENTAL, KONFLIK SUB-BUDAYA, PAKSAAN & KETERGANTUNGAN SOSEK, DOMINASI POLITIK
• INDIKATOR : RAS, BAHASA, WIL GEOGRAFIS, AGAMA, BUDAYA


• MASY INDON MULTIKULTUR
• DIFF HORISONTAL & VERTIKAL
• HORISONTAL :
RAS, SUKU BANGSA, AGAMA, JENDER
• VERTIKAL :
SEJARAH, GEOGRAFIS
• PERMASALAHAN
KONFLIK : TINGKAT (IDEOLOGI, POLITIK); JENIS (RASIAL, SUKU, AGAMA)
INTEGRASI : BHS INDON, PERSATUAN &
KESATUAN, PANDANGAN HIDUP, GOTONG ROYONG, SENASIB, KAWIN
DISINTEGRASI : KETIDAKSEPAKATAN NILAI
REINTEGRASI : KESEPAKATAN/PEMAHAMAN KEMBALI

KLP-KLP SOSIAL DLM MASY MULTIKULTUR
• BERDASARKAN RAS
• BAHASA
• SUKU BANGSA
• PERBEDAAN AGAMA
• PERBEDAAN JENDER
• DAMPAK & KONSEKUENSI
• INTERSEKSI
• KONSOLIDASI
• AKULTURASI
• PRIMORDIALISME
• STEREOTIPE ETNIS
• SEKTARIAN (BERDASARKAN ALIRAN)
• PLURALISME & NASIONALISME
• SIKAP KRITIS, TOLERANSI & EMPATI THD HUB KEANEKARAGAMAN & PERUBH SOSIAL
• SIKAP KRITIS
KEANEKARAGAMAN : PENGHORMATAN
PERUBH SOS : SELEKTIF, PERBAIKAN
• TOLERANSI
KEANEKARAGAMAN : NILAI, PENGHARGAAN
PERUBH SOS : PENGUATAN & PENGEMBANGAN POTENSI
• EMPATI
KEANEKARAGAMAN : NILAI, PEMIKIRAN, PENDAPAT
PERUBH SOS : INOVASI YANG MENGUATKAN POTENSI

6. PERUBAHAN SOSIAL
• PS : PERUBH STRUKTUR & FUNGSI MASY
• PERUBH SOSIAL : MIKRO, MAKRO
- PS TERENCANA & TDK TERENCANA
• FAKTOR PENYEBAB
INTERNAL : PENDUDUK, TEMUAN BARU, KONFLIK SOS
EKSTERNAL : FISIK/ALAM, PERANG, PENGARUH BUD LUAR
• FAKTOR PENDORONG
BUD LUAR, PENDIDIKAN, TOLERANSI, PELAPISAN TERBUKA, PENDUDUK HITEROGIN, KETIDAK PUASAN MASY, ORIENTASI MASA DEPAN, PERBAIKAN HIDUP
• FAKTOR PENGHAMBAT
TERTUTUP, PERKB IPTEK LAMBAT, SIKAP APATIS/TRAD, KEMAPANAN, HUB LUAR KECIL,


• MODERNISASI
• MODERNISASI : PENERAPAN IPTEK DLM SELURUH PROSES KEHIDUPAN MASYARAKAT
• SYARAT :
RASIONAL, EFISIENSI, TERORGANISASI, INOVATIF, DISIPLIN, SENTRALISTIK
• DAMPAK :
DISORGANISASI SOS, KESENJANGAN BUD & DISINTEGRASI SOS

• GLOBALISASI
• GLOBALISASI : PERUBH SOS MAKRO DI MANA INDIV, MASY BERHUB TIMBAL BALIK, SALING MEMBUTUHKAN DNG MASY DI NEG2 LAIN; PASAR BEBAS, NEG TANPA BATAS
• DAMPAK :
GEGAR BUD, KESENJANGAN BUD, MEMPERKAYA UNSUR KEBUD INDON
• TANTANGAN :
JATI DIRI INDIV, MASY & BANGSA, PENGHAYATAN PS LEMAH, BHS INDON, LEGITIMASI AGAMA, DEKADENSI MORAL, PERUBH PERILAKU

Sejarah Sosiologi Pendidikan

Sejarah Sosiologi Pendidikan

Sejak manusia dilahirkan di dunia ini, secara sadar maupun tidak, sesungguhnya ia telah belajar dan berkenalan dengan hubungan-hubungan social yaitu hubungan antara manusia dalam masyarakat. Hubungan sosial out dimulai dari hubungan antara anak dengan orang tua kemudian meluas hingga ketetangga[6].
Dalam hubungan sosial tersebut terjadilah proses pengenalan dan proses pengenalan tersebut mencakup berbagai budaya, nilai, norma dan tanggung jawab manusia, sehingga dapat tercipta corak kehidupan masyarakat yang berbeda-beda dengan masalah yang berbeda pula.
Sosiologi ini dicetuskan oleh Aguste Comte maka dari itu dia dikenal sebagai bapak sosiologi, ia lahir di Montpellier tahun 1798. Ia merupakan seorang penulis kebanyakan konsep, prinsip dan metode yang sekarang dipakai dalam sosiologi berasal dari Comte. Comte membagikan sosiologi atas statika social dan dinamika social dan sosiologi mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:
1.   Bersifat empiris yaitu didsarkan pada observasi dan akal sehat yang hasilnya tidak bersifat spekulatif.
2.   Bersifat teoritis yaitu selalu berusaha menyusun abstraksi dan hasil observasi.
3.   Bersifat kumulatif yaitu teori-teori sosiologi dibentuk berdasarkan teori yang ada kemudian diperbaiki, diperluas dan diperhalus
4.   Bersifat nenotis yaitu tidak mempersoalkan baik buruk suatu fakta tertentu tetapi untuk menjelaskan fakta tersebut.
Comte mengatakan bahwa tiap-tiap cabang ilmu pengetahuan manusia mesti melalui tiga tahapan perkembangan teori secara berturut-turut yaitu keagamaan atau khayalan, metafisika atau abstrak dan saintifik atau positif[7].
Setelah selesai perang dunia II, perkembangan masyarakat berubah secara drastis dimana masyarakat dunia mengingnkan adanya perubahan dalam menyahuti perkembangan dan kebutuhan baru terhadap penyesuaian perilaku lembaga pendidikan. Oleh karena itu disiplin sosiologi pendidikan yang sempat tenggelam dimunculkan kembali sebagai bagian dari ilmu-ilmu penting dilembaga pendidikan[8].
Menurut pendapat Drs. Ary H. Gunawan, bahwa sejarah sosiologi pendidikan terdiri dari 4 fase, yaitu[9]:
a.   fase pertama, dimana sosiologi sebagai bagian dari pandangan tentang kehidupan bersama filsafat umum. Pada fase ini sosiologi merupakan cabang filsafat, maka namanya adalah filsafat sosial.
b.   Dalam fase kedua ini, timbul keinginan-keinginan untuk membangun susunan ilmu berdasarkan pengalaman-pengalaman dan peristiwa-peristiwa nyata (empiris). Jadi pada fase ini mulai adanya keinginan memisahkan diri antara filsafat dengan sosial.
c.   sosiologi pada fase ketiga ini, merupakan fase awal dari sosiologi sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri. Orang mengatakan bahwa Comte adalah “bapak sosiologi”, karena ialah yang pertama kali mempergunakan istilah sosiologi dalam pembahasan tentang masyarakat.
Sedangkan Saint Simon dianggap sebagai “perintis jalan” bagi sosiologi. Ia bermaksud membentuk ilmu yang disebut “Psycho-Politique”.
Dengan ilmu tersebut Saint Simon dan juga Comte mengambil rumusan dari Turgot (1726-1781) sebagai orang yang berjasa terhadap sosiologi, sehingga sosiologi menjadi tumbuh sendiri.
d.   pada fase yang terakhir ini, ciri utamanya adalah keinginan untuk bersama-sama memberikan batas yang tegas tentang obyek sosiologi, sekaligus memberikan pengertian-pengertian dan metode-metode sosiologi yang khusus. Pelopor sosiologi yang otonom dalam metodenya ini berada pada akhir abad 18 dan awal 19 antara lain adalah Fiche, Novalis, Adam Muller, Hegel, dan lain-lain.
D. Tujuan dan Kegunaan Sosiologi
Francis Broun mengemukakan bahwa sosiologi pendidikan memperhatikan pengaruh keseluruhan lingkungan budaya sebagai tempat dan cara individu memproleh dan mengorganisasi pengalamannya. Sedang S. Nasution mengatakan bahwa sosiologi pendidikan adalah Ilmu yang berusaha untuk mengetahui cara-cara mengendalikan proses pendidikan untuk memproleh perkembangan kepribadian individu yang lebih baik. Dari kedua pengertian dan beberapa pengertian yang telah dikemukakan dapat disebutkan beberapa konsep tentang tujuan sosiologi pendidikan, yaitu sebagai berikut[10]:
  1. Sosiologi pendidikan bertujuan menganalisis proses sosialisasi anak, baik dalam keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Dalam hal ini harus diperhatiakan pengaruh lingkungan dan kebudayaan masyarakat terhadap perkembangan pribadi anak. Misalnya, anak yang terdidik dengan baik dalam keluarga yang religius, setelah dewasa/tua akan cendrung menjadi manusia yang religius pula. Anak yang terdidik dalam keluarga intelektual akan cendrung memilih/mengutamakan jalur intlektual pula, dan sebagainya.
  2. Sosiologi pendidikan bertujuan menganalisis perkembangan dan kemajuan social. Banyak orang/pakar yang beranggapan bahwa pendidikan memberikan kemungkinan yang besar bagi kemajuan masyarakat, karena dengan memiliki ijazah yang semakin tinggi akan lebih mampu menduduki jabatan yang lebih tinggi pula (serta penghasilan yang lebih banyak pula, guna menambah kesejahteraan social). Disamping itu dengan pengetahuan dan keterampilan yang banyak dapat mengembangkan aktivitas serta kreativitas social.
  3. Sosiologi pendidikan bertujuan menganalisis status pendidikan dalam masyarakat. Berdirinya suatu lembaga pendidikan dalammasyarakat sering disesuaikan dengan tingkatan daerah di mana lembaga pendidikan itu berada. Misalnya, perguruan tinggi bisa didirikan di tingkat propinsi atau minimal kabupaten yang cukup animo mahasiswanya serta tersedianya dosen yang bonafid.
  4. Sosiologi pendidikan bertujuan menganalisis partisipasi orang-orang terdidik/berpendidikan dalam kegiatan social. Peranan/aktivitas warga yang berpendidikan / intelektual sering menjadi ukuan tentang maju dan berkembang kehidupan masyarakat. Sebaiknya warga yang berpendidikan tidak segan- segan berpartisipasi aktif dalam kegiatan social, terutama dalam memajukan kepentingan / kebutuhan masyarakat. Ia harus menjadi motor penggerak dari peningkatan taraf hidup social.
  5. Sosiologi pendidikan bertujuan membantu menentukan tujuan pendidikan. Sejumlah pakar berpendapat bahwa tujuan pendidikan nasional harus bertolak dan dapat dipulangkan kepada filsafat hidup bangsa tersebut. Seperti di Indonesia, Pancasila sebagai filsafat hidup dan kepribadian bangsa Indonesia harus menjadi dasar untuk menentukan tujuan pendidikan Nasional serta tujuan pendidikan lainnya. Dinamika tujuan pendidikan nasional terletak pada keterkaitanya dengan GBHN, yang tiap 5 (lima) tahun sekali ditetapkan dalam Sidang Umum MPR, dan disesuaikan dengan era pembangunan yang ditempuh, serta kebutuhan masyarakat dan kebutuhan manusia.
  6. Menurut E. G Payne, sosiologi pendidikan bertujuan utama memberi kepada guru- guru (termasuk para peneliti dan siapa pun yang terkait dalam bidang pendidikan) latihan – latihan yang efektif dalam bidang sosiologi sehingga dapat memberikan sumbangannya secara cepat dan tepat kepada masalah pendidikan. Menurut pendapatnya, sosiologi pendidikan tidak hanya berkenaan dengan proses belajar dan sosialisasi yang terkait dengan sosiologi saja, tetapi juga segala sesuatu dalam bidang pendidikan yang dapat dianalis sosiologi. Seperti sosiologi yang digunakan untuk meningkatkan teknik mengajar yaitu metode sosiodrama, bermain peranan (role playing) dan sebagainya.dengan demikian sosiologi pendidikan bermanfaat besar bagi para pendidik, selain berharga untuk mengalisis pendidikan, juga bermanfaat untuk memahami hubungan antara manusia di sekolah serta struktur masyarakat. Sosiologi pendidikan tidak hanya mempelajari masalah – masalah sosial dalam pendidikan saja, melainkan juga hal – hal pokok lain, seperti tujuan pendidikan, bahan kurikulum, strategi belajar, sarana belajar, dan sebagainya. Sosiologi pendidikan ialah analisis ilmiah atas proses sosial dan pola- pola sosial yang terdapat dalam sistem pendidikan.
Jika dilihat zaman peradaban yunani pada masa Plato (427-327 BC), pendidikannya lebih mengutamakan penciptaan manusia sebagai pemikir, kemudian sebagai ksatria dan penguasa. Pada zaman Romawi, seperti masa kehidupan Cicero (106-43 BC), pendidikan mengutamakan penciptaan manusia yang hmanistis. Pada abad pertengahan, pendidikan mengutamakan menjadikan manusia sebagai pengabdi Khalik (baik versi Islam maupun versi Kristiani). Pada abad pertengahan (1600-an-1800-an), melahirkan teori Nativisme (Rousseau, 1712-1778), Empirisme oleh Locke (1632-1704) dan konvergensi oleh Stern (1871-1939). Semuanya cendrung kepada nilai individu anak sebagai manusia yang memiliki karakteristik yang unik.
Menurut Nasution ada beberapa konsep tentang tujuan Sosiologi Pendidikan, antara lain sebagai berikut[11]: (1) analisis proses sosiologi (2) analisis kedudukan pendidikan dalam masyarakat, (3) analisis intraksi social di sekolah dan antara sekolah dengan masyarakat, (4) alat kemajuan dan perkembangan social, (5) dasar untuk menentukan tujuan pendidikan, (6) sosiologi terapan, dan (7) latihan bagi petugas pendidikan.
Konsep tentang tujuan sosiologi pendidikan di atas menunjukkan bahwa aktivitas masyarakat dalam pendidikan merupakan sebuah proses sehingga pendidikan dapat dijadikan instrument oleh individu untuk dapat berintraksi secara tepat di komunitas dan masyarakatnya. Pada sisi yang lain, sosiologi pendidikan akan memberikan penjelasan yang relevan dengan kondisi kekinian masyarakat, sehingga setiap individu sebagai anggota masyarakat dapat menyesuaikan diri dengan pertumbuhan dan perkembangan berbagai fenomena yang muncul dalam masyarakatnya.
Tujuan sosiologi pendidikan pada dasarnya untuk mempercepat dan meningkatkan pencapaian tujuan pendidikan secara keseluruhan. Karena itu, sosiologi pendidikan tidak akan keluar darim upaya-upaya agar pencapaian tujuan dan fungsi pendidikan tercapai menurut pendidikan itu sendiri. Secara universalm tujuan dan fungsi pendidikan itu adalah memanusiakan manusia oleh manusia yang telah memanusia. Itulah sebabnya system pendidikan nasional menurut UUSPN No. 2 Tahun 1989 pasal 3 adalah “ untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujaun nasional”. Menurut fungsi tersebut jelas sekali bahwa pendidikan diselenggarakan adalan: (1) untuk mengembangkan kemampuan manusia Indonesia, (2) meningkatkan mutu kehidupan manusia Indonesiam (3) meningkatkan martabat manusia Indonesia, (4) mewujudkan tujuan nasional melalui manusia-masusia Indonesia. Oleh karena itu pendidikan diselenggarakan untuk manusia Indonesia sehingga manusia Indonesia tersebut memiliki kemampuan mengembangkan diri,mmeningkatkan mutu kehidupan, meninggikan martabat dalam ragka mencapai tujuan nasional[12].
Kegunaan atau faedah sosiologi untuk kehidupan sehari-hari, yaitu[13]:
1.   Untuk pekerjaan sosial, sosiologi memberikan gambaran/pengertian tentang berbagai problem sosial, sehingga dapat dicari solusinya secara tepat dan akurat.
2.   Untuk pembangunan pada umumnya, sosiologi memberikan pengertian tentang masyarkat secara luas, sehingga dengan gambaran tersebut para perencana dan pelaksana pembangunan dapat mencari pola pembangunan yang paling sesuai agar berhasil.

Pengertian Sosiologi Pendidikan Menurut Para Ahli

E. Goerge Payne (dalam Faisal dan Yasik, 1985) yang merupakan bapak sosiologi pendidikan memberikan penekanan bahwa dalam lembaga-lembaga, kelompok-kelompok sosial dan proses sosial terdapat hubungan yang saling terjalin, di mana di dalam interaksi sosial itu individu memperoleh dan mengorganisasikan pengalamannya.

Berikut ini adalah beberapa pengertian-defenisi sosiologi pendidikan menurut para ahli:
  1. F.G. Robbins, pengertian sosiologi pendidikan adalah sosiologi khusus yang tugasnya menyelidiki struktur dan dinamika proses pendidikan. Struktur mengandung pengertian teori dan filsafat pendidikan, sistem kebudayaan, struktur kepribadian dan hubungan kesemuanya dengantata sosial masyarakat. Sedangkan dinamika yakni proses sosial dan kultural, proses perkembangan kepribadian,dan hubungan kesemuanya dengan proses pendidikan.
  2. H.P. Fairchild dalam bukunya ”Dictionary of Sociology” dikatakan bahwa sosiologi pendidikan adalah sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang fundamental. Jadi ia tergolong applied sociology.
  3. Pro f. DR S. Nasution,M.A., Pengertian Sosiologi Pendidikan adalah ilmu yang berusaha untuk mengetahui cara-cara mengendalikan proses pendidikan untuk mengembangkan kepribadian individu agar lebih baik.
  4. F.G Robbins dan Brown, Pengertian Sosiologi Pendidikan ialah ilmu yang membicarakan dan menjelaskan hubungan-hubungan sosial yang mempengaruhi individu untuk mendapatkan serta mengorganisasi pengalaman. Sosiologi pendidikan mempelajari kelakuan sosial serta prinsip-prinsip untuk mengontrolnya.
  5. E.G Payne, Pengertian Sosiologi Pendidikan ialah studi yang komprehensif tentang segala aspek pendidikan dari segi ilmu sosiologi yang diterapkan.
  6. Drs. Ary H. Gunawan, Pengertian Sosiologi Pendidikan ialah ilmu pengetahuan yang berusaha memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan analisis atau pendekatan sosiologis.
Ruang Lingkup Sosiologi Pendidikan
Masalah-masalah yang diselidiki sosiologi pendidikan antara lain meliputi pokok-pokok berikut ini.
1. Hubungan sistem pendidikan dengan aspek-aspek lain dalam masyarakat
  • Hubungan pendidikan dengan sistem sosial atau struktur sosial,
  • Hubungan antara sistem pendidikan dengan proses kontrol sosial dan sistem kekuasaan,
  • Fungsi pendidikan dalam kebudayaan,
  • Fungsi sistem pendidikan dalam proses perubahan sosial dan kultural atau usaha mempertahankan status quo, dan
  • Fungsi sistem pendidikan formal bertalian dengan kelompok rasial, kultural dan sebagainya.
2. Hubungan antar manusia di dalam sekolah
Lingkup ini lebih condong menganalisis struktur sosial di dalam sekolah yang memiliki karakter berbeda dengan relasi sosial di dalam masyarakat luar sekolah, antara lain yaitu:
  • Hakikat kebudayaan sekolah sejauh ada perbedaannya dengan kebudayaan di luar sekolah, dan
  • Pola interaksi sosial dan struktur masyarakat sekolah, yang antara lain meliputi berbagai hubungan kekuasaan, stratifikasi sosial dan pola kepemimpinan informal sebagai terdapat dalam clique serta kelompok-kelompok murid lainnya.
3. Pengaruh sekolah terhadap perilaku dan kepribadian semua pihak di sekolah/lembaga pendidikan
  • Peranan sosial guru-guru/tenaga pendidikan,
  • Hakikat kepribadian guru/ tenaga pendidikan,
  • Pengaruh kepribadian guru/tenaga kependidikan terhadap kelakuan anak/peserta didik, dan
  • Fungsi sekolah/lembaga pendidikan dalam sosialisasi murid/peserta didik.
4. Lembaga Pendidikan dalam masyarakat
Di sini dianalisis pola-pola interaksi antara sekolah/ lembaga pendidikan dengan kelompok-kelompok sosial lainnya dalam masyarakat di sekitar sekolah/lembaga pendidikan. Hal yang termasuk dalam wilayah itu antara lain yaitu
  • Pengaruh masyarakat atas organisasi sekolah/lembaga pendidikan,
  • Analisis proses pendidikan yang terdapat dalam sistemsistem sosial dalam masyarakat luar sekolah,
  • Hubungan antarsekolah dan masyarakat dalam pelaksanaan pendidikan, dan
  • Faktor-faktor demografi dan ekologi dalam masyarakat berkaitan dengan organisasi sekolah, yang perlu untuk memahami sistem pendidikan dalam masyarakat serta integrasinya di dalam keseluruhan kehidupan masyarakat

Konflik Sosial Vertikal - Horizontal


Konflik Sosial Vertikal - Horizontal ; Tukang Ojek dengan Supir Angkutan Kota dan Pemerintah
Studi Kasus Perumahan Taman Harapan Baru, Bekasi Barat

Kota Bekasi adalah salah satu kota penyangga bagi Jakarta selain Bogor, Tanggerang, dan Depok. Wilayah Bekasi seperti mendapatkan berbagai keuntungan dari pesatnya laju pertumbuhan ekonomi Jakarta yang dalam hal ini sebagai pusat ekonomi. Dengan demikian kota ini pun tumbuh sebagai kota industri yang banyak membutuhkan tenaga kerja yang sesuai dengan bidangnya. Sebagaimana kita ketahui bahwa masyarakat perkotaan akan terbagi-bagi dalam spesifikasi bidang pekerjaannya. Dalam tulisan kali ini penulis ingin mengangkat permasalahan yang ada diwilayah tempat tinggal penulis kota Bekasi. Permasalahan yang timbul adalah mengenai profesi pekerjaan yang saling menekan satu dan lainnya agar keuntungan lebih berpihak pada satu golongan saja, yakni antara masyarakat yang berprofesi sebagai tukang ojek dan supir angkotan kota(angkot). Disini penulis akan memberikan uraian singkat mengenai profile 2 profesi yang sering bertikai dalam mencari rejeki dan sebab munculnya pertikaian sehingga mengganggu kenyamanan serta meresahkan masyarakat luas.

Tukang Ojek, inilah sebutan bagi seseorang yang menjual jasa kepada orang lain dengan cara memberi tumpangan pada sepeda motor yang ia kemudikan agar sampai ke tempat tujuan. Alat transportasi ini sangatlah membantu bila seseorang ingin cepat sampai tujuan ditengah kemacetan jalan maupun ketika melewati jalan kecil yang tak mungkin dilalui kendaraan beroda empat. Sebelum tahun 2002 alat transportasi ini sangat popular dan digemari masyarakat sehingga profesi ini sangatlah menguntungkan berdasarkan hasil pendapatannya. Tukang Ojek ini biasanya akan bermunculan bila terdapat perumahan-perumahan yang baru dibuka dan belum ramai dengan alat transportasi massal seperti Angkutan kota.

Akan tetapi seiring pembangunan yang terus berjalan, nasib tukang ojek tidak seiring dengan pembangunan tersebut. Nasib yang mereka alami  semakin tertekan dalam menjalani kehidupan. Hal ini dikarenakan banyak faktor didalamnya, seperti trayek angkot yang memasuki area kerja jasa tukang ojek, naiknya harga BBM, dan makin banyaknya orang yang menjadi tukang ojek dikarenakan terkena PHK akibat krisis moneter. Pekerjaan sebagai tukang ojek kini hanya menjadi sebuah sandaran hidup satu-satunya bagi para tukang ojek untuk mencari sesuap nasi agar anak dan istrinya dapat bertahan hidup dengan penghasilan yang hanya rata-rata 10.000 sampai 15.000 perhari.

Konflik yang terjadi antara tukang ojek dan supir angkot ini sebagaimana yang penulis garis bawahi terjadi akibat meluasnya trayek angkot yang menjadikan para tukang ojek tidak lagi mendapatkan pelanggan. Kemudian sebab yang kedua adalah masuknya trayek angkutan kota(angkot) yang masuk ke dalam komplek perumahan yang dahulu dijadikan pangkalan untuk menunggu pelanggan datang, tentu saja hal ini memicu terjadinya konflik antara supir angkot dan tukang ojek mengenai batas yang boleh dilalui angkot. Bisa kita cermati bahwa jika angkot terlalu jauh masuk ke dalam jalan-jalan perumahan yang memang seiring dengan pembangunan terjadi perbaikan dan pelebaran jalan, maka tidak ada lagi orang yang akan menggunakan jasa ojek karena angkot pun sudah sampai didekat tempat tujuan bahkan mungkin berhenti tetap didepan rumah penumpang tersebut.

Dari konflik yang terus berlanjut tersebut, pemerintah daerah kota Bekasi seolah tutup mata dan lebih mengedepankan kepentingan pengusaha angkot, karena setelah seringnya terjadi konflik tersebut trayek angkot tersebut tetap pada akhirnya disahkan oleh Pemda untuk lebih jauh masuk hingga batas perumahan yang diinginkan oleh pengusaha angkutan kota. Hingga hari ini penulis pun masih sering melihat adanya bentrokan kecil yang seolah ingin menyulut sebuah bentrokan besar antara 2 kelompok tersebut, mulai dari pemblokiran jalan oleh tukang ojek terhadap angkot yang telah melewati batas jam-jam tertentu, berdemo didepan Pemda kota Bekasi, hingga tindakan anarkis yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab seperti pelemparan batu terhadap kaca-kaca angkot saat sedang diparkir dipangkalannya. Nampaknya kelompok tukang ojek merupakan pihak yang sangat dirugikan dengan adanya keputusan pemerintah daerah setempat yang berkuasa tetapi yang lebih mementingkan keuntungan dan memihak kepada pengusaha angkutan kota.

Analisa Kasus
Dalam penulisan kali ini, penulis akan menganalisa masalah sosial diatas menggunakan perspektif teori konflik yang dimana dirasa sangat tepat untuk memecahkan masalah sosial tersebut. Masyarakat yang menurut Marx dibagi menjadi 2 kelas sosial, digambarkan sebagai masyarakat borjuis dan proletar akibat adanya sistem perekonomian kapitalis. Dimana masyarakat borjuis dalam hal ini adalah pemilik modal pengusaha angkot, dan pemerintah. Sedangkan kaum proletar yang digambarkan sebagai masyarakat pekerja yang dieksploitasi namun setelah terkena gelombang krisis ekonomi nasib mereka tidak diperhatikan dan terkena PHK, tukang ojek dan supir angkot sebenarnya adalah korban dari eksploitasi pemerintah dan pengusaha angkutan kota yang tidak mau tahu mengenai nasib pekerja dan rakyat yang selalu bertikai dalam kasus ini.

Ketika kapitalisme telah masuk dan menjadikan masyarakat Indonesia mau tidak mau untuk mengikutinya, ketika itulah kesejahteraan bagi kaum kaum kelas bawah hanya sebuah angan dan impian. Adanya konflik sosial vertikal-horizontal dalam studi kasus ini telah memperlihatkan bahwa kapitalisme yang disebutkan Marx akan selalu menghasilkan konflik antara kelas atas dan kelas bawah.

Menurut perspektif teori konflik, bahwa konsep sentral dari teori ini adalah wewenang dan posisi yang dimana pembagian kekuasaan dan wewenang yang tidak merata akan terus menimbulkan konflik. Tukang ojek adalah cerminan buruknya hasil dari struktur sosial dimasyarakat yang terbagi-bagi berdasarkan posisi yang memegang kekuasaan dan wewenang sebagai kelas atas atau kelas bawah yang dimana walaupun kelas bawah berusaha bertahan hidup sebagai tukang ojek namun oleh pemerintah dan pemilik modal seakan terus menekan masyarakat proletar dengan menaikkan harga BBM, pajak kendaraan bermotor yang tinggi, dan lebih mementingkan kepentingan pengusaha angkutan kota yang menginginkan angkutan kota agar diperluas trayek angkotnya.

Masalah sosial yang terjadi disini merupakan hasil dari pemegang kekuasaan yang tidak mementingkan kelas bawah, oleh sebab itu kaum kelas bawah yang merasa dikuasai dan dikekang akan terus melakukan perubahan-perubahan agar nasibnya lebih baik. Konflik ini pun menjadikan tiap-tiap golongan yang berkonflik menjadi semakin tinggi solidaritasnya baik itu dari para tukang ojek dan supir angkot. Ini dikarenakan mereka merasakan sebuah kesamaan dari pola hidup, satu profesi dan satu nasib sebagai orang-orang yang mendapatkan posisi dibawah dan hanya seperti di adudomba oleh penguasa.

Namun minimnya tingkat pendidikan mereka membuat mereka seakan hanya menemui kesadaran palsu atas nasib mereka dan pada akhirnya mereka tetap melakukan pekerjaannya hingga hari ini demi kelangsungan hidupnya dan pertikaian terus terjadi secara laten. Hal ini dikarenakan pemerintah dan pengusaha angkutan tidak memperhatikan nasib kelangsungan hidup rakyat dan tenaga kerjanya saat itu dan masa depannya, yang mereka fikirkan adalah keuntungan semata.

Kesimpulan dan Saran

Dari pengamatan yang dilakukan penulis, dapat kita lihat bahwa kemiskinan dan konflik yang dialami oleh tukang ojek, supir angkot dan pemerintah merupakan buah dari ketidakadilan pemegang kekuasaan yang hanya mengekploitasi golongan bawah untuk kepentingan dan keuntungan semata. Kemiskinan yang golongan bawah alami ini lebih tertuju pada akibat dari struktur yang membuat mereka sulit untuk mengakses dalam berbagai bidang yang telah dikuasai oleh pemerintah pengusaha yang kapitalis. Kurang pedulinya pemerintah terhadap nasib golongan bawah dan lebih mementingkan para investor atau kelas atas semakin memperjelas bahwa golongan bawah akan terus ada  dan akan terus menciptakan konflik berkepanjangan serta takkan teratasi tanpa adanya pemecah sekat antara golongan atas dan golongan bawah.

Mungkin pemerintah kota Bekasi saat ini ingin agar sumber pendapatan pemerintah daerah besar dengan adanya pajak, dan dengan pajak diharapkan mampu untuk menciptakan dan memberikan modal bagi rakyat kecil untuk berusaha mandiri. Namun sampai kapankah cita-cita mulia itu dapat terwujud disaat semangat globalisasi telah masuk ke negeri ini. Semangatlah rakyat kaum miskin kota, semoga nasib kalian berubah seiring dengan berkembangnya pengetahuan kalian.

Saran dari penulis disini hanya menghimbau bagi pemerintah, pemilik modal dan pengusaha angkutan kota berikanlah apa yang seharusnya kalian bisa berikan terhadap rakyat dan pekerja kalian. Pertama, untuk pemerintah daerah Bekasi gunakanlah mediasi antara pemerintah, pengusaha angkutan kota dan rakyat agar berdiskusi bersama untuk mendapatkan jalan keluar dari konflik yang terus terjadi. Kedua Pemerintah harusnya lebih mengedepankan kepentingan rakyatnya bukan hanya mementingkan keuntungan semata tanpa memikirkan nasib rakyatnya yang semakin terjepit ekonominya akibat perluasan trayek angkutan kotan tersebut.

Jika memang pemerintah lebih mementingkan pemilik modal, setidaknya mudahkanlah rakyat kecil mengakses pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan untuk kelangsungan hidupnya dan agar mereka dengan sendirinya memiliki pengetahuan yang luas dan mampu hidup mandiri. Ketiga untuk masyarakat kelas bawah dan kaum miskin kota serta tiap individu yang merasa terjajah haknya, jangan pernah menyerah dalam menghadapi globalisasi yang bersifat kapitalis ini. Terus berjuang dalam melakukan perubahan hidup ini dan ingat kalian tidaklah patut untuk berkonflik secara horizontal karena kalian hanyalah korban yang memiliki nasib yang sama, timbulkanlah kesadaraan yang sebenarnya bahwa konflik dengan sesame kelas bawah hanya akan menyenangkan hati golongan atas yang secara tidak langsung tetap diam melihat konflik yang terjadi seperti mengadudomba. Bersatulah Runtuhkanlah tirani yang membelenggu hak kalian. Karena banyak dari kalian yang berkemauan keras dan berpengetahuan menjadi sukses sebagai pengusaha mikro tanpa bantuan dari pemerintah.

Fungsi Sosiologi dalam Masyarakat

Fungsi Sosiologi dalam Masyarakat

Fungsi Sosiologi dalam Masyarakat
1.1  Latar Belakang Masalah

Istilah sosiologi berasal dari kata “socius” dan “logos”. Sosius (bahasa Latin) berarti kawan, dan logos (bahasa Yunani) berarti kata atau berbicara. Dengan demikian, ilmu sosiologi berarti ilmu yang berbicara mengenai masyarakat.

Sosiologi adalah ilmu yang mempelejari tentang masyarakat sebagai keseluruhan, yakni antar hubungan di antara manusia dengan manusia, manusia dengan kelompok, kelompok dengan kelompok, baik formal maupun material, statis maupun dinamis. Pengertian sosiologi ini dipaparkan oleh Mayor Polak.



Dalam setiap bidang ilmiah terdapat perbedaan antara ilmu murni (pure science) dan ilmu terapan (applied science). Ilmu murni bertujuan membentuk dan mengembang-kan pengetahuan secara abstrak guna mempertinggi mutu pengetahuan tersebut, na-mun segi penerapannya bukan merupakan perhatian utama. Ilmu terapan bertujuan untuk mencari cara-cara mempergunakan pengetahuan ilmiah guna memecahkan ma-salah praktis. Sosiologi merupakan ilmu terapan sekaligus ilmu terapan.

Dilihat dari objeknya, sosiologi termasuk pada kelompok-kelompok ilmu-ilmu sosial yang mempelajari perilaku manusia. Sebagai ilmu murni sekaligus ilmu terapan, tu-juan sosiologi adalah melakukan pencarian untuk mendapatkan pengetahuan sedalam-dalamnya tentang masyarakat dan mencari cara-cara untuk menyelesaikan berbagai masalah yang terjadi di lingkungan masyarakat tersebut

Kita telah membahas pengertian sosiologi dan kita juga telah mendapat bukti bahwa sosiologi adalah sebuah ilmu pengetahua sebagaimana ilmu-ilmu lainnya. Lantas, apakah sosiologi memiliki kegunaan bagi masyarakat? Apa manfaat dari mempelajari sosiologi? Kita akan mencari jawabannya dalam bagian ini.

1.2  Rumusan Masalah

Adapun beberapa masalah dirumuskan dalam pembuatan makalah ini antara lain :
  1. Apa kegunaan sosiologi dalam masyarakat?
  2. Apa peran sosiolog di lingkungan masyarakat?

1.3  Tujuan

Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :
  1. Mengetahui kegunaan sosiologi dalam masyarakat.
  2. Mengetahui peran sosiolog di lingkungan masyarakat.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Kegunaan Sosiologi

Pengetahuan sosiologi telah diterapkan secara umum. Banyak sosiolog yang dipeker-jakan dalam instansi-instansi negara maupun menjadi konsultan berbagai perencanaan pembangunan. Dalam hal ini tentunya peran sosiolog sangat dibutuhkan terutama yang berkaitan dengan penelitian, pengolahan data dan perencanaaan kebijakan yang menyangkut kepentingan masyarakat. Kegunaan sosiologi bagi masyarakat adalah :
  1.  Untuk pembangunan.
  2.  Untuk penelitian.
  
2.1.1        Untuk Pembangunan

Sosiologi berguna untuk memberikan data sosial yang diperlukan pada tahap perenca-naan pelaksanaan maupun penilaian pembangunan. Pada tahap perencanaan, yang ha-rus diperhatikan adalah apa yang menjadi kebutuhan sosial. Pada tahap pelaksanaan yang harus dilihat adalah kekuatan sosial dalam masyarakat serta proses perubahan sosialnya. Dan pada tahap penilaian yang harus dilakukan adalah analisis terhadap e-fek atau dampak sosial pembangunan tersebut.


2.1.2        Untuk Penelitian

Dengan penelitian dan penyelidikan sosiologis, akan diperoleh suatu perencanaan a-tau pemecahan masalah sosial yang baik. Di negara yang sedang membangun, peran sosiolog sangat dibutuhkan. Berdasarkan hasil penelitian sosiologis, para pengambil-an keputusan dapat menyusun rencana dan cara pemecahan suatu masalah sosial. Contohnya, cara pencegahan kenakalan remaja dan cara meningkatkan kembali rasa solidaritas antarwarga yang semakin pudar.


2.2  Peran Sosiolog

Sebagai ahli ilmu kemasyarakatan, para sosiolog tentu sangat berperan dalam mem-bangun masyarakat terutama di daerah yang sedang berkembang. Bentuk-bentuk pe-ran para ahli tersebut dapat kita gambarkan sebagai berikut :
  1. Sosiolog sebagai ahli riset
  2. Sosiolog konsultan kebijakan
  3. Sosiolog sebagai teknisi
  4. Sosiolog sebagai guru atau pendidik   
2.2.1        Sosiolog Sebagai Ahli Riset

Seperti semua ilmuan lainnya, para sosiolog menaruh perhatian pada pengumpulan dan penggunaan data. Untuk itu, para sosiolog melakukan riset ilmiah untuk mencari data tentang kehidupan sosial suatu masyarakat. Data itu kemudian diolah menjadi suatu karya ilmiah yang berguna bagi pengambilan keputusan untuk memecahkan masalah-masalah dalam masyarakat.

Dalam kaitan dengan hal ini, seorang sosiolog harus mampu men-ernihkan berbagai anggapan keliru yang berkembang dalam masyarakat. Dari hasil penilitiannya, sosio-log harus dapat menghadirkan kebenaran-kebenaran agar dampak negatif yang mung-kin ditimbulkan oleh kekeliruan dalam masyarakat dapat dihindari. Berdasarkan hal i-tu pula, seorang sosiolog bisa menghadirkan ramalan sosial yang didasarkan pada po-la-pola, kecenderungan, dan perubahan yang paling mungkin terjadi.   


2.2.2        Sosiolog Konsultan Kebijakan

Ramalan sosiologi dapat membantu memperkirakan pengaruh kebijakan sosial yang mungkin terjadi. Setiap kebijakan sosial adalah suatu ramalan. Artinya, kebijakan di-ambil dengan suatu harapan menghasilkan pengaruh atau dampak yang diinginkan. Namun, sering terjadi bahwa kebijakan yang diambil tidak memenuhi harapan terse-but. Salah satu faktornya adalah ketidakakuratan kesimpulan atau dugaan yang salah terhadap permasalahannya.


2.2.3        Sosiolog Sebagai Teknisi

Beberapa sosiolog terlibat dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan masyarakat. Mereka memberi saran-saran, baik dalam penyelesaian berbagai masalah hubungan masyarkat, hubungan antarkaryawan, masalah moral, maupun hubungan antarkelom-pok dalam suatu organisasi.

Dalam kedudukan seperti ini, sosiolog bekerja sebagai ilmuan terapan (applied scien-tist). Mereka dituntut untuk menggunakan pengetahuan ilmiahnya. Dalam mencari ni-lai-nilai tertentu, seperti efisiensi kerja atau efektifitas suatu program atau kegiatan masyarakat.


2.2.4        Sosiolog Sebagai Guru atau Pendidik

Dalam menyajikan suatu fakta, seorang sosiolog harus bersikap netral dan objektif. Contohnya, dalam menyajikan data tentang masalah kemiskinan, seorang sosiolog ti-dak boleh menciptakan anggapan sebagai pendukung suatu proyek atau kegiatan ter-tentu atau mengubahnya sehingga terkesan reformis, konservatif, dan sebagainya.
Sosiolog dapat menyajikan contoh-contoh konkret tentang bagaimana keterlibatan mereka dalam pemecahan masalah sosial. Keterlibatan mereka dalam kegiatan-ke-giatan sosial yang bersifat membangun serta menunjukkan apa yang telah mereka pe-lajari dari pengalaman-pengalaman tersebut.

 

Blogger news

Blogroll

About